
SEJARAH
NEGERI HULUNG
A. Pendahuluan.
Hulung adalah salah satu negeri adat di kecamatan taniwel Kabupaten seram
bagian barat. Letaknya di pesisir pantai sebelah timur, jaraknya 8 km dari kota
kecamatan taniwel. Penduduknya terdiri dari campuran suku alune dan suku wemale
.hal ini jelas terlihat pada bahasa yang di gunakan, bukan bahasa alune dan
juga bukan bahasa wemale akan tetapi bahasa ada di antara dua rumpun bahasa
tersebut, yaitu bahasa asli hulung yang di sebut sou pulune. Hulung bukan nama
asli negeri ini, tetapi nama aslinya adalah Pulune yang berarti rutu
–rutu (sejenis rumput) yang dibawa oleh moyang-moyang negeri ini sewaktu ikan
terjadi perpisahan. Nama Hulung ini diberikan oleh bangsa Belanda yang datang
ke negeri ini sekitar tahun 1910.
B. Asal-usul
Seperti penduduk pulau seram pada umumnya, maka nenek moyang negeri hulung terpencar ribuan tahun silam dari Nunusaku mereka adalah 4 (empat) orang bersaudara yaitu :
BUATA (kakak tertua)
MARALATU (tengah)
LALISA (bungsu)
INDIPUNA (saudara perempuan)
Ketika terjadi eksedus nunusaku, ke empet orang bersaudara ini menyelamatkan diri dan tinggal di Sapulaulatale (siboralatale) daerah sahulau (tanjung Ripaputi) sekarang. Namun ketika terjadi pertikaian antara suku maka mereka mencari tempat yang aman untuk tinggal di situ, yaitu Tanseku kemudian mereka pindah lagi ke Asakwa dan dari sini mereka ke Kwalela (di daerah piru). Kemudian mereka tinggal di suatu tempat (PILA) sekitar hulu kali Teha (piru sekarang) kemudian dari tempat itu mereka berpisah.
Saudara mereka MARALATU memilih tinggal di situ (Pila), sedangkan BUATA dan LALISA meninggalkan saudaranya dan melanjutkan perjalanan dan mereka berdua tinggal lagi di Asakwa. Namun sebelum mereka tinggalkan MARALATU di pila, sebagai tanda perpisahan mereka menancapkan panah pusaka yang mereka bawah ketanah di daerah pila maka dari bekas panah pusaka itu terpancarlah mata air namanya (mata air Nama sekarang).
Kedua adik berkakak itu melanjutkan perjalanan
dan tinggal di Babelu Ulate. Tak lama kemudian mereka berpindah lagi dan
tinggal lagi di Makepia (daerah hulu sungai pana). Di daerah inilah kedua kakak
beradik (BUATA dan LALISA) berpisah sebagai tanda hubungan darah, maka panah
pusaka di serahkan kepada LALISA untuk di bawah kemana saja dia pergi dan dia
tinggal sedangkan busurnya di tinggalkan kepada BUATA dengan perjanjian bahwa
barang-barang pusaka itu dilihat selalu/di peliharadan di jaga (selusaka). Di
samping itu juga lalisa membawah segenggam rutu-rutu (Bulune).Dari kata Bulune
inilah maka turunannya di sebut Pulune (perubahan dari bahasa ponemke alone
bahasa hulung).
LALISA meneruskan perjalanan kesebelah timur menyusuri keutara dan tinggal di Seitbubui. Dari sana dia pindah lagi dan tinggal bersama anak cucunya di gunung Uina / Lopuanu mereka membuat kampong dan mengangkat ALISA LATU TOUWELY sebagai raja I (pertama) tahun 1870-1900. Kemudian mereka pindah lagi dari batu Uineke Paluapatai sesudah itu pindah lagi ke Lesiela (negeri lama terakhir) dan mereka mengangkat WAILELATU TOUWELY sebagai raja II (kedua) tahun 1900-1907 setelah perang lesalua berakhir. Sesudah itu mereka itu turun kepesisir pantai sebuah pelabuhan yang di anggap aman dan menjadi tempat istirahat yang menurut mereka sangat strategi dan akhirnya mereka membuat perkampungan di sekitar daerah itu yang namanya “PULUNE” /lama kelemahan pulune diganti menjadi HULUNG.
Kemudian tahun 1907 ALUWE WEMALE di angkat menjadi raja ke III dengan suatu perjanjian, bila anak cucu dari Latu Touwely ada yang pintar maka pemerintahan tersebut harus di kembalikan. Setelah tahun 1942 ALUWE WEMALE diganti dengan MARTHEN WEMALE sebagai pejabat, sesudah itu tahun 1953 diangkat ARITS PANNA sebagai raja sampai tahun 1988, di lanjutkan oleh pejabat MARKUS NENETE sampai tahun 1991, kemudian STEPANUS WARAE tahun 1991-1998 dan diganti lagi dengan IZAK LUMAMULY tahun 1998.
LALISA meneruskan perjalanan kesebelah timur menyusuri keutara dan tinggal di Seitbubui. Dari sana dia pindah lagi dan tinggal bersama anak cucunya di gunung Uina / Lopuanu mereka membuat kampong dan mengangkat ALISA LATU TOUWELY sebagai raja I (pertama) tahun 1870-1900. Kemudian mereka pindah lagi dari batu Uineke Paluapatai sesudah itu pindah lagi ke Lesiela (negeri lama terakhir) dan mereka mengangkat WAILELATU TOUWELY sebagai raja II (kedua) tahun 1900-1907 setelah perang lesalua berakhir. Sesudah itu mereka itu turun kepesisir pantai sebuah pelabuhan yang di anggap aman dan menjadi tempat istirahat yang menurut mereka sangat strategi dan akhirnya mereka membuat perkampungan di sekitar daerah itu yang namanya “PULUNE” /lama kelemahan pulune diganti menjadi HULUNG.
Kemudian tahun 1907 ALUWE WEMALE di angkat menjadi raja ke III dengan suatu perjanjian, bila anak cucu dari Latu Touwely ada yang pintar maka pemerintahan tersebut harus di kembalikan. Setelah tahun 1942 ALUWE WEMALE diganti dengan MARTHEN WEMALE sebagai pejabat, sesudah itu tahun 1953 diangkat ARITS PANNA sebagai raja sampai tahun 1988, di lanjutkan oleh pejabat MARKUS NENETE sampai tahun 1991, kemudian STEPANUS WARAE tahun 1991-1998 dan diganti lagi dengan IZAK LUMAMULY tahun 1998.
C. Penutup
Demikian sejarah negeri hulung ini kami buat, disadari sesungguh bahwa sejarah negeri ini belum lengkap dan sempurna karena masih memerlukan penggalian dan pengkajian dari berbagai khususnya saudara kita Rumahsoal dan piru demi memperoleh data untuk penyempurnaan sejarah negeri ini.
Semoga Tuhan memberkati sejarah bangsa-bangsa kami.
#by Rinaldo Touwe